Al-Alusi dalam tafsirnya, Ruhul ma’ani, mengatakan bahwa Millah adalah
dasar-dasar syari’at—atau lebih tepat adalah ‘ajaran inti’— yang tidak pernah
berubah sejak manusia pertama hidup
hingga manusia akhir zaman.
“Millah merupakan isim yang berasal dari fi’il amlaltu al-Kitaba (أَمْلَلْتُ الْكِتَابَ) yang berarti “Mendiktekan kitab”— seperti telah dikatakan oleh ar-Raghib. Darinya kemudian millah dipahami sebagai ‘thariiqin muluulin’ yang berarti “jalan yang sudah dikenal”—sebagaimana diterjemahkan oleh al-Azhari.Dari pengertian itu Kemudian ia diartikan sebagai dasar-dasar syari’at (ajaran inti. pent), Sebab Rasulullah saw mengajarkannya tapi tak seorang pun dari para nabi yang lain yang berselisih tentangnya... (Kitab Al-Alusi 1 : 448)
Millah merupakan pokok ajaran
yang tidak berubah dan menjadi pondasi dari semua bentuk syari’at/ ajaran
tertentu, maka ia akan menjadi dasar bagi setiap gerak langkah seseorang dalam
menentukan arah gerakan seseorang dalam menjalani hidupnya. Millah para
nabi ialah mengabdi pada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu
pun, yang menghantarkan manusia pada amal yang berdasarkan pada perintah dan
larangan dari Allah dan Rasul-Nya.
Ajaran ini tidak pernah berubah
sejak nabi pertama diutus hingga Nabi dan Rasul terakhir ditugaskan, Allah SWT
berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَا
مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنَا فَاعْبُدُونِ
dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun
sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka beribadahlah kamu sekalian kepadaku".
(al-Anbiya : 25)
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا
نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (25) أَنْ لَا تَعْبُدُوا
إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (26)
“dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh
kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan
yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak beribadah selain kepada Allah.
Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat
menyedihkan". (Q.s Huud : 25-26)
وَإِلَى عَادٍ
أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ
غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ
“dan kepada kaum 'Ad (kami utus) saudara
mereka, Huud. ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah pada Allah,
sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan
saja.” (Q.s Huud : 50)
Ayat-ayat tersebut diatas
menjelaskan bahwa ada ajaran inti dari syari’at-syari’at yang diberlakukan di
setiap zaman para nabi sejak awal, yaitu mengabdi/beribadah pada Allah dengan
tidak menyekutukannya dengan sesuatupun, dan itu bersumber dari sebuah prinsip
kuat dalam kalimah thayyibah (laa ilaaha illaAllah).
Kalimat Thayyibah bukanlah sebuah prinsip
biasa, dia adalah dasar kokoh bagi setiap tingkah laku seorang muslim. Pemaham
yang benar terhadap kalimat ini akan menuntun seseorang ke arah keselamatan
dunia akhirat. Sebaliknya ketika salah memahami, akan salah jalan yang
ditempuh. Ia bagaikan sebuah kompas, ketika jarumnya melenceng satu derajat
saja dari arah tujuannya akan menyimpang berkilo-kilo meter ke arah yang salah,
sedikit saja pemahaman yang salah terhadap kalimat thyyibah ini maka akan jauh
kita tersesat. Itu sebabnya mengapa millah yang lahir dari umat ini
diprediksi akan begitu banyak.
Namun tidak semua yang memiliki
pemahaman yang benar beramal benar, banyak di antara manusia yang paham akan
tauhid yang lurus tapi tidak menjalankan tuntutan dari ketauhidan itu. ini juga
menunjukkan bahwa ada yang salah dari ketauhidannya, dan secara otomatis
membentuk millah yang lain, millah yang berdasar pada pemahaman
tanpa pengamalan.
Sungguh Allah telah menggambarkan
bagaimana seharusnya seseorang dalam bertauhid, Dia menggambarkan dengan sebuah
perumpamaan indah dalam al-Qur’an :
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25)“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat thayyibah (Tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,. pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” ( Q. s Ibrahim : 24-25)
Jumhur
ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan kalimat thayyibah dalam ayat ini
adalah kalimat laa ilaaha illaAllah. Allah mennggambarkan kalimat itu seperti
pohon yang kuat akarnya, tinggi batangnya dengan daun yang rindang menaungi
orang-orang di bawahnya, juga memberi manfaat pada orang-orang sekitar.
Pemahaman yang benar dari kalimat thayyibah ini menjadi dasar paling penting
bagi terbentuknya banyak perbuatan kita sehari-hari, ia adalah akar yang akan
menumbuhkan batang-batang, daun dan buah yang baik untuk memberi rasa aman dan
manafaat pada orang di sekitarnya.
Maka
seorang muslim adalah orang yang mampu memberikan rasa aman pada orang di
sekitarnya lewat lisannya juga perbuatannya, dan memberi manfaat pada orang
lain. Millah seperti inilah yang akan menghantarkan pemeluknya menuju
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dan sebaliknya, millah yang keluar
dari kalimat tauhid walau hanya sedikit penyimpangannya (keluar dari kriteria
perumpamaan kalimah thayyibah) adalah millah yang bathil, sebab
dari penyimpangan itu akan lahir sikap penentangan terhadap aturan Allah yang
dibawa oleh Nabi-Nya. Rasulullah menggambarkan bagaimana kaum Nashrani yang
gemar sekali beramal tapi saat aturan Allah datang pada mereka lewat Muhammad
Rasulullah mereka banyak menolaknya, begitu juga orang-orang Yahudi yang
mempunyai ilmu keagaamaan yang baik mereka tidak juga mau beriman pada ajaran
Islam.
Di
kalangan muslimin juga begitu, ada di antara mereka yang mengaku muslim tapi
karena prinsip mereka yang membebek pada ulama—bukan mencari kepastian bahwa ia
dari Allah dan Rasulnya—saat dihadapkan pada dalil-dalil shahih dari al-Qur’an
dan Sunnah banyak di antara mereka yang menolak. Begitupun dengan para
penjahat, pemabuk, penjudi, kaum musyrikin dll saat dihadapkan pada
aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya, mereka banyak menolaknya. Penolakan dalam istilah Islam disebut
dengan kufur.
Itulah sebabnya sebagian ulama termasuk Syafi’i dan Hambali
mengatakan bahwa segala bentuk kekufuran adalah satu millah yang sama
walaupun agama mereka berbeda-beda. Mereka mengatakan :
الْكُفْرُ مِلَّةٌ وَاحِدَةٌ“Kekufuran adalah millah yang satu”[2]
Ini menunjukkan bahwa semua bentuk kekufuran
memiliki millah yang sama, yaitu keluar dari akidah Islam yang
menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah.
Dari uraian di atas maka secara garis besar millah
terbagi dua, ada millah yang haq, dan illah yang bathil. Millah
yang haq, yaitu “Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan
sesuatu-pun” atau lebih dikenal dengan Tauhid (kalimah thayyibah),
sedangkan millah yang batil adalah “segala millah yang keluar
dari ketauhidan yang lurus”, itulah ‘kekufuran’.
Karena tipisnya
penyimpangan-penyipangan itu Rasulullah menggambarkan akan lahir banyak millah
dari tubuh Umat yang telah Allah utus Nabi kepada mereka, Rasulullah Saw
bersabda :
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهْ وَ سَلّمَ، لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَمّتِيْ مِا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَعْلِ بِالنِعْلِ، حِتَّى إِذَا كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَّةً، فَإِنَّ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذلِكَ، وِ إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تِفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثِ وَ سَبْعْينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النِارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدِةً، قِالُوْا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ (رَوَاهُ الِترْمِذي، عِنْ عِبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو: قَالَ الِترْمِذِي :حديث حسن غريب)Rasulullah pernah bersabda : sungguh akan datang kepada ummat ku apa yang telah datang kepada Bani Israil sedikit demi sedikit, hingga jika ada di antara mereka ada yang mendatangi (menzinahi) ibunya secara terang-terangan, maka sesungguhnya di antara ummatku pun akan ada yang melakukannya, Bani israil telah terpecah mejadi 72 millah (ajaran) dan umatku akan terpecah menjadi 73 millah, semuanya ada di neraka kecuali satu millah, mereka (para sahabat) bertanya : siapakah ia wahai rasulullah?, Rasulullah menjawab :“Apa yang Aku dan para sahabatku pegang teguh (al-Qur’an dan Sunnah) (HR. Tirmidzi, dari Abdullah Bin ‘Amr, al-Tirmidzi berkata : hadis hasan Gharib)
Dari Millah-millah
inilah yang kemudian akan lahir firqah (golongan manusia) yang bermacam-macam,
firqah yang masih tetap pada millah yang berlandaskan tauhid yang lurus,
dialah yang akan selamat, sedangkan yang melenceng darinya—walaupun sedikit—
akan celaka. Wallohu
a’lam
Lalu,
apa bedanya millah dan din?
Ad-Din memiliki arti yang sangat
luas, terkadang ia diartikan sebagai ketaatan dan ketundukan, terkadang juga
diartikan sebagai pembalasan, dan juga
terkadang diartikan sebagai sebuah sistem tata aturan (Agama).
Kalimat din yang berarti agama—yang
semakna dengan millah dalam terjemahan— memiliki cakupan arti yang lain,
ia lebih luas dari millah. Jika millah hanya berarti ajaran inti
atau pokok-pokok syari’at, din mencakup segala aturan yang mengikat
manusia; mencakup kepercayaan, aturan yang mengatur tata ibadah ritual dan
mua’amalah, hingga adanya balasan bagi pelanggar baik di dunia maupun di
akhirat. “Singkatnya din adalah sebuah sistem aturan yang mencakup segala
aspek dan memjanjikan balasan bagi pelaksana dan pelanggarnya”
Melihat pengertian tersebut, maka sebenarnya, Jika seorang manusia, baik pemimpin, penguasa atau yang lainnya membuat aturan yang mencakup segala aspek kehidupan manusia, dari keyakinan hingga tata budaya yang wajib ditaati dengan konsekuensi hukuman bagi setiap pelanggarnya, maka sebenarnya itu adalah din/agama.[3]
Selain itu juga yang terpenting adalah bahwa din mengandung makna kekuasaan mutlak bagi siapa yang menciptakan dan mengaturnya, Islam sebagai din Allah mengandung arti bahwa kekuasaan tertinggi dalam din ini adalah Allah, jika Allah memberikan aturan, maka wajib ditaati, tak ada yang bisa mengalahkan aturannya.
Seperti millah, din juga terbagi dua, ada din yang haq dan din yang batil, din yang haq adalah dinul Islam, sedangkan din yang batil adalah din selain Islam, sebagaimana Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(Q.s. Ali Imran : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.s. Ali Imran : 85)
Pada akhirnya....
Dengan demikian tidak ada kebingungan bagi kita dalam memahami dua isitlah ini dalam al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam dalam ayat berikut ini :
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ
عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ
وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ
عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا
بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ (78)
“Dan berjihadlah kamu
pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
(Ikutilah) millah orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian
orang-orang Muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini,
supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi
atas segenap manusia, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah
Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.” (al-Hajj : 72)
Dalam ayat tersebut Allah menerangkan bahwa agama yang dibawa oleh para Nabi (Islam) sangatlah luas, banyak aturan yang terdapat di dalamnya yang membutuhkan energi ketaatan yang kuat, maka kemudian Allah memerintahkan kita untuk mengikuti millah Ibrahim, yaitu Tauhid yang lurus yang taat tanpa kompromi pada Rab-Nya. Kita sudah tahu bagaimana ketaatan yang ditunjukkan Ibrahim, ia sampai rela mengorbankan anak dan Istrinya hanya karena itu perintah Allah. wallohu A’lam.
No comments:
Post a Comment