Thursday, 26 July 2018

Henti Buli OKU



❌ Rakam video perbualan individu kurang upaya
❌ Kemudian kongsikan di media sosial dan tularkan
❌ Komen berbaur kutukan dan hinaan secara berjemaah

Ini adalah contoh perbuatan JELIK yang di lakukan oleh netizen di Malaysia terhadap seorang individu OKU.

Untuk makluman, ini merupakan kali ke dua video individu yang sama di tularkan.

Video sebelum turut mendapat ribuan perkongsian sehingga keluarga tampil merayu agar perkongsian video individu kurang upaya ini di hentikan🙏🏼

Mengapakah individu OKU lebih kerap di buli dan mengapakah ia terjadi?

Ikuti kupasan PHM mengenai isu serius yang dijadikan bahan hiburan netizen Malaysia

.

Fast Fact Mengenai OKU dan Buli

☑️ Kajian sistematik menunjukkan, individu OKU adalah 4 kali ganda lebih berisiko untuk di buli berbanding individu normal.

☑️ 3 kali ganda lebih berisiko untuk di rompak, di samun dan di rogol

☑️ 3 kali ganda lebih berisiko untuk di manipulasi secara seksual semasa kanak kanak

☑️ 1.6 kalo ganda lebih berisiko untuk di abaikan dan di dera semasa kanak kanak
.

Mengapakah individu OKU sering di buli?

Terdapat pelbagai faktor yang menyebabkan golongan OKU berisiko untuk menjadi mangsa buli;

1. OKU mudah dijadikan mangsa dan tidak melawan
2. OKU sering dianggap sebagai individu yang lebih rendah tahapnya dari segi intelektual, kemampuan, kebolehan
3. Pandangan stereotype mengenai individu OKU
4. Individu OKU sering terasing dan di pinggirkan dalam pelbagai aspek
5. Perbuatan buli kepada individu OKU dianggap sebagai hiburan dan normal kepada sesetengah pihak

Seperti didalam kes ini, pihak yang tidak bertanggung jawab telah merakamkan percakapan individu OKU ini dengan niat untuk di jadikan sebagai bahan hiburan di media sosial.

Kekurangan yang di miliki oleh individu OKU ini telah di jadikan modal oleh netizen untuk mempersendakan tingkahlakunya.

Netizen juga tidak melihat perbuatan perkongsian video seperti itu sebagai satu bentuk penindasan kepada golongan OKU tetapi sekadar satu bentuk hiburan untuk bergurau senda

.
Sokong dan Bantu Golongan OKU

Di fahamkan individu OKU ini bekerja di sebuah stesyen minyak di selatan tanah air.

Tahniah dan terima kasih di ucapkan kepada pengusahan dan BHP yang telah mengambil inisiatif dengan mengajikan individu OKU sebagai pekerja mereka.

Ini adalah salah satu contoh untuk menunjukkan peranan pihak industri dan pengusaha untuk membantu dan menyokong golongan OKU untuk menumbangkan tenaga kepada masyarakat.

Mungkin bagi sesetengah pengusaha, mereka lebih rela mengambil pekerja asing yang jauh lebih ekonomi dan efisyen.

Tetapi sokongan murni inilah yang menjadikan sesebuah komuniti itu berbeza dan berada di tahap yang jauh lebih baik dari satu komuniti yang lain.

Bagi masyarakat pula, beri kerjasama dan fahami keadaan dan kekurangan golongan OKU. Galakkan dan sokong mereka untuk bekerja dan menyumbang bakti kepada komuniti
.
Saranan kepada masyarakat

Cuba letakkan diri anda di dalam diri individu OKU tersebut. Mahukah anda di viralkan dengan rakaman video seperti itu?

✅ HENTIKAN sebarang bentuk pembulian dan diskriminasi kepada golongan OKU. 🙏🏼🙏🏼

✅ Mohon mana mana pihak yang mengongsikan video tersebut agar menghentikan penyebaran serta merta

✅ Laporkan kepada Facebook —> klik pada titik titik di atas kanak perkongsian—> give feedback—> pilih harassment

✅ Elakkan dari memberi komen yang berbaur hinaan dan kutukan

Sokong dan bantu Individu OKU 🙏🏼

@public health malaysia
@KKM


Wednesday, 18 July 2018

Apa Beza Dien dengan Millah?

Dalam kebanyakan terjemahan, kedua perkataan tersebut seringkali diterjemahkan sebagai 'agama'.

Al-Alusi dalam tafsirnya, Ruhul ma’ani,  mengatakan bahwa Millah adalah dasar-dasar syari’at—atau lebih tepat adalah ‘ajaran inti’— yang tidak pernah berubah sejak manusia  pertama hidup hingga manusia akhir zaman.  
“Millah merupakan isim yang berasal dari fi’il amlaltu al-Kitaba (أَمْلَلْتُ الْكِتَابَ) yang berarti “Mendiktekan kitab”— seperti telah dikatakan oleh ar-Raghib.  Darinya kemudian millah dipahami sebagai  thariiqin muluulin yang berarti “jalan yang sudah dikenal”—sebagaimana diterjemahkan oleh al-Azhari.
Dari pengertian itu Kemudian ia diartikan sebagai dasar-dasar syari’at (ajaran inti. pent), Sebab Rasulullah saw mengajarkannya tapi tak seorang pun dari para nabi yang lain yang berselisih tentangnya...  (Kitab Al-Alusi 1 : 448)
            Millah merupakan pokok ajaran yang tidak berubah dan menjadi pondasi dari semua bentuk syari’at/ ajaran tertentu, maka ia akan menjadi dasar bagi setiap gerak langkah seseorang dalam menentukan arah gerakan seseorang dalam menjalani hidupnya. Millah para nabi ialah mengabdi pada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, yang menghantarkan manusia pada amal yang berdasarkan pada perintah dan larangan dari Allah dan Rasul-Nya. 
            Ajaran ini tidak pernah berubah sejak nabi pertama diutus hingga Nabi dan Rasul terakhir ditugaskan, Allah SWT berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka beribadahlah kamu sekalian kepadaku". (al-Anbiya : 25)
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (25) أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (26)
“dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak beribadah selain kepada Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan". (Q.s Huud : 25-26)
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ 
“dan kepada kaum 'Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah pada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja.” (Q.s Huud : 50)
Ayat-ayat tersebut diatas menjelaskan bahwa ada ajaran inti dari syari’at-syari’at yang diberlakukan di setiap zaman para nabi sejak awal, yaitu mengabdi/beribadah pada Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun, dan itu bersumber dari sebuah prinsip kuat dalam kalimah thayyibah (laa ilaaha illaAllah).
Kalimat Thayyibah bukanlah sebuah prinsip biasa, dia adalah dasar kokoh bagi setiap tingkah laku seorang muslim. Pemaham yang benar terhadap kalimat ini akan menuntun seseorang ke arah keselamatan dunia akhirat. Sebaliknya ketika salah memahami, akan salah jalan yang ditempuh. Ia bagaikan sebuah kompas, ketika jarumnya melenceng satu derajat saja dari arah tujuannya akan menyimpang berkilo-kilo meter ke arah yang salah, sedikit saja pemahaman yang salah terhadap kalimat thyyibah ini maka akan jauh kita tersesat. Itu sebabnya mengapa millah yang lahir dari umat ini diprediksi akan begitu banyak.
Namun tidak semua yang memiliki pemahaman yang benar beramal benar, banyak di antara manusia yang paham akan tauhid yang lurus tapi tidak menjalankan tuntutan dari ketauhidan itu. ini juga menunjukkan bahwa ada yang salah dari ketauhidannya, dan secara otomatis membentuk millah yang lain, millah yang berdasar pada pemahaman tanpa pengamalan.
Sungguh Allah telah menggambarkan bagaimana seharusnya seseorang dalam bertauhid, Dia menggambarkan dengan sebuah perumpamaan indah dalam al-Qur’an :
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25)
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat thayyibah (Tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,. pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” ( Q. s Ibrahim : 24-25)
Jumhur ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan kalimat thayyibah dalam ayat ini adalah kalimat laa ilaaha illaAllah. Allah mennggambarkan kalimat itu seperti pohon yang kuat akarnya, tinggi batangnya dengan daun yang rindang menaungi orang-orang di bawahnya, juga memberi manfaat pada orang-orang sekitar. Pemahaman yang benar dari kalimat thayyibah ini menjadi dasar paling penting bagi terbentuknya banyak perbuatan kita sehari-hari, ia adalah akar yang akan menumbuhkan batang-batang, daun dan buah yang baik untuk memberi rasa aman dan manafaat pada orang di sekitarnya.
Maka seorang muslim adalah orang yang mampu memberikan rasa aman pada orang di sekitarnya lewat lisannya juga perbuatannya, dan memberi manfaat pada orang lain. Millah seperti inilah yang akan menghantarkan pemeluknya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dan sebaliknya, millah yang keluar dari kalimat tauhid walau hanya sedikit penyimpangannya (keluar dari kriteria perumpamaan kalimah thayyibah) adalah millah yang bathil, sebab dari penyimpangan itu akan lahir sikap penentangan terhadap aturan Allah yang dibawa oleh Nabi-Nya. Rasulullah menggambarkan bagaimana kaum Nashrani yang gemar sekali beramal tapi saat aturan Allah datang pada mereka lewat Muhammad Rasulullah mereka banyak menolaknya, begitu juga orang-orang Yahudi yang mempunyai ilmu keagaamaan yang baik mereka tidak juga mau beriman pada ajaran Islam. 
 Di kalangan muslimin juga begitu, ada di antara mereka yang mengaku muslim tapi karena prinsip mereka yang membebek pada ulama—bukan mencari kepastian bahwa ia dari Allah dan Rasulnya—saat dihadapkan pada dalil-dalil shahih dari al-Qur’an dan Sunnah banyak di antara mereka yang menolak. Begitupun dengan para penjahat, pemabuk, penjudi, kaum musyrikin dll saat dihadapkan pada aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya, mereka banyak menolaknya. Penolakan dalam istilah Islam disebut dengan kufur.
  
Itulah sebabnya sebagian ulama termasuk Syafi’i dan Hambali mengatakan bahwa segala bentuk kekufuran adalah satu millah yang sama walaupun agama mereka berbeda-beda. Mereka mengatakan :
 
الْكُفْرُ مِلَّةٌ وَاحِدَةٌ
“Kekufuran adalah millah yang satu”[2]
Ini menunjukkan bahwa semua bentuk kekufuran memiliki millah yang sama, yaitu keluar dari akidah Islam yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah. 
Dari uraian di atas maka secara garis besar millah terbagi dua, ada millah yang haq, dan illah yang bathil. Millah yang haq, yaitu “Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu-pun” atau lebih dikenal dengan Tauhid (kalimah thayyibah), sedangkan millah yang batil adalah “segala millah yang keluar dari ketauhidan yang lurus”, itulah ‘kekufuran’.
 
Karena tipisnya penyimpangan-penyipangan itu Rasulullah menggambarkan akan lahir banyak millah dari tubuh Umat yang telah Allah utus Nabi kepada mereka, Rasulullah Saw bersabda :
 قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهْ وَ سَلّمَ، لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَمّتِيْ مِا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَعْلِ بِالنِعْلِ، حِتَّى إِذَا كَانَ مِنْهُمْ مَنْ  أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَّةً، فَإِنَّ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذلِكَ، وِ إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تِفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَ سَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثِ وَ سَبْعْينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النِارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدِةً، قِالُوْا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ (رَوَاهُ الِترْمِذي، عِنْ عِبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو: قَالَ الِترْمِذِي :حديث حسن غريب)
Rasulullah pernah bersabda : sungguh akan datang kepada ummat ku apa yang  telah datang kepada Bani Israil sedikit demi sedikit, hingga jika ada di antara mereka ada yang mendatangi (menzinahi) ibunya secara terang-terangan, maka sesungguhnya di antara ummatku pun akan ada yang melakukannya, Bani israil telah terpecah mejadi 72 millah (ajaran) dan umatku akan terpecah menjadi 73 millah, semuanya ada di neraka  kecuali satu millah, mereka (para sahabat) bertanya : siapakah ia wahai rasulullah?, Rasulullah menjawab :“Apa yang Aku dan para sahabatku pegang teguh (al-Qur’an dan Sunnah) (HR. Tirmidzi, dari Abdullah Bin ‘Amr, al-Tirmidzi berkata : hadis hasan Gharib)
Dari Millah-millah inilah yang kemudian akan lahir firqah (golongan manusia) yang bermacam-macam, firqah yang masih tetap pada millah yang berlandaskan tauhid yang lurus, dialah yang akan selamat, sedangkan yang melenceng darinya—walaupun sedikit— akan celaka. Wallohu a’lam
Lalu, apa bedanya millah dan din?
Ad-Din memiliki arti yang sangat luas, terkadang ia diartikan sebagai ketaatan dan ketundukan, terkadang juga diartikan sebagai pembalasan,  dan juga terkadang diartikan sebagai sebuah sistem tata aturan (Agama).
Kalimat din yang berarti agama—yang semakna dengan millah dalam terjemahan— memiliki cakupan arti yang lain, ia lebih luas dari millah. Jika millah hanya berarti ajaran inti atau pokok-pokok syari’at, din mencakup segala aturan yang mengikat manusia; mencakup kepercayaan, aturan yang mengatur tata ibadah ritual dan mua’amalah, hingga adanya balasan bagi pelanggar baik di dunia maupun di akhirat. “Singkatnya din adalah sebuah sistem aturan yang mencakup segala aspek dan memjanjikan balasan bagi pelaksana dan pelanggarnya”

Melihat pengertian tersebut, maka sebenarnya, Jika seorang manusia, baik pemimpin, penguasa  atau yang lainnya membuat aturan yang mencakup segala aspek kehidupan manusia, dari keyakinan hingga tata budaya yang wajib ditaati dengan konsekuensi hukuman bagi setiap pelanggarnya, maka sebenarnya itu adalah din/agama.[3]

Selain itu juga yang terpenting adalah bahwa din mengandung makna kekuasaan mutlak bagi siapa yang menciptakan dan mengaturnya, Islam sebagai din Allah mengandung arti bahwa kekuasaan tertinggi dalam din ini adalah Allah, jika Allah memberikan aturan, maka wajib ditaati, tak ada yang bisa mengalahkan aturannya.

Seperti millah, din juga terbagi dua, ada din yang haq dan din yang batil, din yang haq adalah dinul Islam, sedangkan din yang batil adalah din selain Islam, sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

 إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(Q.s. Ali Imran : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.s. Ali Imran : 85)
Pada akhirnya....

Dengan demikian tidak ada kebingungan bagi kita dalam memahami dua isitlah ini dalam al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam dalam ayat berikut ini :
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ (78)
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) millah orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.” (al-Hajj : 72)
          
Dalam ayat  tersebut Allah menerangkan bahwa agama yang dibawa oleh para Nabi (Islam) sangatlah luas, banyak aturan yang terdapat di dalamnya yang membutuhkan energi ketaatan yang kuat, maka kemudian Allah memerintahkan kita untuk mengikuti millah Ibrahim, yaitu Tauhid yang lurus yang taat tanpa kompromi pada Rab-Nya. Kita sudah tahu bagaimana ketaatan yang ditunjukkan Ibrahim, ia sampai rela mengorbankan anak dan Istrinya hanya karena itu perintah Allah. wallohu A’lam.

KRONOLOGI KARBALA

(salin-tampal: fb BINTANG KARTIKA)  Sebelum ini saya tidak pernah menulis kronologi Karbala untuk kepada yang mengatakan saya menyembunyikan...